Senin, 14 Januari 2013

DARI MUSIM RAMBUTAN HINGGA MUSIM PILKADA

Pilkada telah tiba..pilkada telah tiba..hore.. hore.. horeee..! Simpanlah tas dan bukumu...#Halah..kok jadi nyanyi lagunya Tasya versi Pilkada.
Ya memang begitulah...2013 emang musimnya segala musim. Dari mulai musim ujan, musim angin kenceng, musim kecelakaan lalu lintas, musim rambutan hingga musim pilkada. Tapi ini bukan pilkada musiman lho, emangnya pedagang musiman kayak pedagang rambutan.

Berbagai strategi dan taktik diadu di musimnya segala musim ini. Dari mulai gimana caranya menarik hati semua orang agar mau membeli rambutan, strategi mencegah banjir, taktik mengurusi PKL,  hingga mau mencoblos gambar calon walikota di kertas suara. Suasana jalanan juga semarak di musimnya segala musim ini. Sepanjang Jalan Cijerah hingga Melong Raya menuju komplek tempat saya tinggal, kurang lebih tiap 100m terdapat plang "15000 4 ikat" diatas tumpukan ikatan buah rambutan. Di sela-sela antar pedagang buah rambutan banyak  poster-poster atau spanduk para calon pemimpin dengan berbagai singkatan duet mereka dan slogan yang diusungnya.

Setiap kali melintas di jalur tersebut, konsentrasi saya selalu terbagi 3. Pertama adalah memprediksi harga rambutan berikutnya serta rencana membelinya setelah tulisan di plang menjadi "15000 5 ikat"  dan melhat sekilas penjual rambutan mana yang dagangan rambutannya bagus-bagus dan segar. Yang kedua, mau tidak mau, mata saya juga tertuju pada foto-foto para calon walikota atau bupati atau gubernur yang tumpang tindih di dinding - dinding bangunan atau di tiang-tiang listrik dan telepon. Celakanya, otak saya kok ya otomatis langsung kebelet pingin menghafal singkatan-singkatan para duet pemimpin itu dan juga slogan-slogan yang di usungnya. Hfff...dan pada saat yang bersamaan pula saya harus memperhatikan jalanan yang berlubang dan laju kendaraan lain disekitar saya. Sumpah, hampir setiap kali saya melintas di jalur tersebut, saya belum menentukan kapan akan membeli rambutan dan juga calon mana yang akan saya coblos.

Dalam strategi marketing, katanya sih kebanyakan konsumen hanya perlu waktu kurang dari 3 detik untuk memutuskan apakah mereka akan membeli barang tersebut atau tidak. Boleh percaya boleh nggak, kebanyakan dari kita juga hanya perlu waktu kurang dari 3 detik untuk menentukan siapa calon pemimpin daerah yang akan dicoblos. Kalo memang saya hobi makan rambutan, maka saya tidak akan terlalu mempersoalkan harga perikatnya. Yang penting makan rambutan!. Yang penting nyoblos!. Nggak gitu juga kalee... Sebagai info aja, ketika diawal - awal musimnya, harga rambutan di patok Rp.10.000 per ikat. Tapi karena saya orang yang termasuk memperhatikan pergerakan harga rambutan, setidaknya di kawasan Cijerah dan sekitarnya, maka biasanya harga rambutan akan mentok di kisaran Rp.10.000 4 ikat. Jadi, mungkin saya adalah "Swing Buyer" untuk segmen pembeli rambutan dan pastinya membutuhkan waktu lebih dari 3 detik untuk memutuskan membeli rambutan, tepatnya saya perlu waktu 3 minggu untuk mengambil keputusan tersebut!. Pas mau beli..eeh ada yang ngasi sekantong, ya nggak jadi beli deh...

Begitu juga dengan pilihan calon mana yang akan dicoblos. Sebenarnya, sebagian besar orang barangkali sudah menentukan siapa yang akan dicoblosnya ketika para pasangan calon resmi di umumkan oleh KPU. Mereka juga hanya perlu waktu kurang dari 3 detik untuk memutuskan akan mencoblos nomor pasangan yang mana. Tapi, ada juga orang yang modelnya kayak saya. "Swing Buyer" yang bertransformasi menjadi "Swing Voter" ketika musim pilkada tiba. Konon katanya Swing Voter itu didominasi oleh mereka para usia muda, tapi buat saya Swing Voter adalah sebuah sikap. Jadi saya akan memutuskan akan mencoblos pasangan yang mana setelah memantau "aksi" para "super hero" rakyat. Seperti halnya tukang rambutan yang akan mengobral dagangannya ketika musim rambutan akan berakhir, maka biasanya para calon pemimpin itu juga akan mengobral janji dan "dagangannya" dalam bentuk program-program kerja bagi daerah yang dipimpinnya begitu musim pilkada akan berakhir alias mendekatnya waktu nyoblos. Para pedagang itu juga dagangannya sama : Rambutan. Yang ditawarkan para calon pemimpin itu juga hampir sama : Kesejahteraan, dan Kehidupan yang lebih baik di segala bidang. Jelas, nggak ada calon walikota atau gubernur yang menawarkan rambutan dan begitu juga tidak ada para pedagang rambutan yang menawarkan program kerja buat daerah kita kalo kita membeli rambutan mereka.

Sebenarnya saya sedang memikirkan apa kesimpulan atau benang merah dari tulisan saya yang satu ini, karena saya tidak mau juga tulisan ini jadi nggak beres-beres seperti sebuah novel atau cerita panjang. Inilah salah satu kesulitan dalam menulis : Sulit Memulai dan Sulit Mengakhiri.
Ya setidaknya di awal 2013 ini, keadaan disekitar kita memang cukup semarak. Sepertinya setiap cerita berjalan masing-masing. Cerita banjir, cerita laka lalu lintas, cerita penjual rambutan, hingga cerita para calon pemimpin daerah. Kita semua adalah user, konsumen, atau target market dari kesemarakan "cerita" di 2013 : Dari Musim Rambutan Hingga Musim Pilkada. 2013 baru saja dimulai, kita tidak pernah tau pedagang rambutan mana yang meraih untung terbanyak dan kita juga sulit memprediksi calon mana yang bakal berjaya di kenduri demokrasi. Yang pasti, kita harus menentukan cerita kita sendiri mau seperti apa di 2013 ini.... kalo bisa putuskan hal tersebut kurang dari 3 detik!






Tidak ada komentar:

Posting Komentar