Senin, 14 Januari 2013

Kalo Saya Diminta Jadi Mentri

Ketika Roy Suryo menjabat sebagai Menpora yang baru, terjadi pro dan kontra. Harus diakui, lebih banyak yang kontranya daripada yang pro. Wajar, karena biasanya orang akan langsung melihat track record si mentri atau latar belakang dan sepak terjangnya selama ia belum menjadi mentri. Saya? apakah pro atau kontra? ah..terlalu jauh kayaknya kehidupan saya dengan cerita di gedung Kementrian Olah Raga dan Pemuda. Saya netral aja deh...tapi mungkin kalo Roy Suryo yang jadi Menpora, bisa jadi ia akan menganalisis beberapa video pertandingan sepak bola dinegeri ini, apakah video itu asli atau rekayasa. Ahli telematika dan informatika gitu loooh....

Kalo saya diminta jadi mentri? Hmmm...ya pada dasarnya setiap orang yang diminta Presiden untuk membantu pekerjaannya alias jadi mentri, ya harus siap. Dimanapun posnya. Maka kalo saya diminta jadi mentri, misalnya jadi menpora, terus apa yang bakal saya lakukan? Jadi mentri, adalah tentang 3 persoalan kecil. Pertama adalah soal Leadership, kedua adalah soal Manajerial, ketiga adalah Kelola Anggaran. Di kemenpora, anggarannya mencapai 2T kurang dikit. Nah, dana sebesar itulah yang harus dikelola secara benar dan mencapai target, nggak boleh nyisa!

Saya jadi nggak habis pikir, kemenpora punya anggaran nyampe 2T tapi ga bisa bikin dunia olah raga kita bisa sejajar sama Jepang, China atau Korea Selatan yang bisa berbicara banyak di tingkat internasional. Padahal postur atlet dari negara-negara tersebut juga nggak beda jauh sama atlet-atlet kita. Mereka punya gingseng, kita punya pasak bumi. Mereka punya salju, kita punya Lembang, Puncak, Brastagi, Kawasan Bromo, dll, kalo memang latihan di cuaca dingin bisa lebih meningkatkan stamina dan kekuatan.

Saya pernah menulis tentang musik dangdut. Intinya hanya butuh 15 milyar lebih dikit untuk bisa membuat musik dangdut lebih "berkelas". Kemenpora punya dana 2T untuk memajukan dunia olah raga Indonesia. Kalo saya jadi menterinya, dana 2T itu cukup kok....kalo emang anggaran tersebut didedikasikan untuk kemajuan prestasi di dunia olah raga. Salah satu kritik saya untuk kemenpora adalah mungkin sudah terjadi penganak emasan pada cabang-cabang olah raga tertentu. Padahal di ajang olimpiade itu banyak banget cabang olah raganya. Saya yakin, di negara-negara yang olah raganya maju, bagusnya prestasi atlet-atletnya tidak hanya semata-mata karena latihan yang rutin, serius dan didukung fasilitas yang ok. Tapi juga didukung oleh riset diberbagai bidang yang mendukung dunia olah raga mereka.

Kerja konkrit saya kalo jadi menpora adalah...., mungkin beberapa puluh milyar rupiah akan saya pakai untuk riset dibidang jamu kuat penambah stamina, penambah nafas atau jamu untuk memperkuat otot. Saya akan gandeng pabrikan2 besar jamu di negeri ini, yang saya yakin mereka punya resep ampuh dan para pakar dibidangnya. Jadi, jamu pasak bumi atau "kuat lelaki" itu tidak hanya populer di kalangan pria yang pingin "terasa" jantan di hadapan istrinya, tapi juga menjadi suplemen para atlet. Jadi nanti ada produk "Jamu Resmi Atlet Nasional".  Kemudian beberapa puluh miliyar lagi akan saya gunakan untuk riset di bidang sepatu olah raga, baju renang, kaca mata renang, baju senam, raket, stik bilyar, kostum untuk para atlet atletik, dan lain sebagainya. Kemudian saya juga akan ngobrol sama mendikbud dan para rektor agar dibuka jurusan khusus Teknologi Olah Raga di universitas2 atau Institut di Indonesia. Jadi nggak cuma teknologi pangan, industri atau informatika yang ditawarkan, tapi juga ada jurusan Teknologi Olah Raga. Ya nantinya jebolan dari jurusan inilah yang akan melakukan penelitian, membuat terobosan dan menawarkan metoda dan konsep2 baru, hingga penciptaan alat2 dan baju olah raga berteknologi tinggi dalam rangka meningkatkan prestasi olah raga Indonesia. Dananya? silakan pake dulu sebagian dari yang 2T tadi. Masa nggak cukup sih bikin jurusan baru dengan dana 100 atau 200 milyar?. So, masih banyak kan sisanya yang dari 2T tadi? Saya masih bisa kasi dana buat perbaikan fasilitas olah raga di daerah-daerah luar Jawa khususnya. Saya masih bisa juga anggarkan untuk beasiswa bagi atlet-atlet berpotensi agar mereka bisa berlatih atau bertanding di luar negeri, tapi hanya sementara lho itu...karena 5 tahun kedepan, negara-negara tetangga lah yang akan merasakan fasilitas dan berlatih dengan metoda dan konsep pembinaan atlet yang dimiliki oleh Indonesia

Jadi, kalo saya di kasi jabatan menteri olah raga minimal...yaa... 4 periode lah hehe. Saya yakin dunia olah raga Indonesia di hampir semua cabang bisa berbicara banyak di tingkat Internasional. Delay sejenak deh urusan wisma atlet Hambalang, bilang "tunggu dulu" untuk kisruh PSSI, dan urusan2 olah raga lainnya yang justru lebih banyak bau politiknya daripada aroma olah raganya itu sendiri. Cepat atau lambat, urusan2 tersebut bakal "tenang" dengan sendirinya seiring meningkatnya presasi olah raga nasional di kancah internasional.

Jadi, kalo saya di minta oleh Pak SBY jadi mentri..khususnya menpora...yang pertama akan saya lakukan adalah tentunya...pesan 2 lusin nasi timbel komplit karena saya akan mengadakan pengajian di mesjid dekat rumah, bukan syukuran..tapi lebih ke minta doa dan restu dari orang tua, teman, tetangga atau sanak famili agar saya ga kepikiran buat korupsi kalo jadi mentri!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar